Tuesday, September 1, 2015

sakit

SAYA kemarin sakit, sekarang sudah sembuh. SUDAH.

NIKI. KEROBOKAN.

Monday, July 27, 2015

Energi

Sudah cukup lama tidak menulis. Sibuk membagi energi. Lompat sana sini. Senang, tapi rindu. Apa kabar aksara acak-ku? Mari biarkan jari jemari ini menari kembali. 

Setelah mengaktifkan kembali acupcikin.blogspot.com alias si komik ayam cupu, energiku terserap kesana, dan juga ditambah bekerja bersama dengan seorang fotografer lingkungan. Jadilah terlupa untuk bercengkerama dengan aksara. Tak lama, diikuti dengan datangnya seorang mahasiswa seni peran, tari, yang juga seorang pemijat professional. Yang ini cukup menyerap banyak energiku, tetapi tak apa.

‎Sepertinya semesta sedang berbicara padaku. "Ayo mulai memotret lagi!" katanya. Dan kemudian juga ia bilang, "bergeraklah lebih cepat, dan nikmati prosesnya."
Kurang lebih begitu. Haha... ya baiklah, akan saya coba, dengan segera.

Hari ini, saya akan kembali lari-lari, dengan senang hati tentunya ;) Saatnya kembali menjadi saya yang bergerak mengikuti angin, melangkah dengan senyum terkembang, dan berbagi energi positif ‎.

Niki, Kertamulia, 27 Juli 2015 - 08:26

Friday, July 17, 2015

Kembali Merangkai

Bukan, saya bukan mau merangkai bunga, hanya kata-kata. Sudah beberapa hari ini saya disibukkan oleh bergerak kesana kemari, ditambah membangunkan kembali si Acup, yang sempat hibernasi. Sekarang sudah saatnya untuk mengingat kembali dan mengimbangi, antara kuas dan pena, sebelum ditambah kamera.

Hari ini, saya bertemu kembali sebuah keluarga, yang dulu sempat bertetangga. Saya diingat sebagai, si pemberi lemari, padahal itupun ada yang memberi. Saya tidak menyesal, ataupun meminta pamrih, hanya senang melihat senyum yang tulus dari hati. Agak sedih, sang nenek sakit, semoga cepat sembuh.

Selanjutnya, bukan lagi waktunya untuk melihat kanan kiri, ayo berlari. Mengejar apa, bisa kamu lihat dan cari, satu persatu, mulai menampakkan diri. Kalau bukan yang kamu suka, carilah lagi. Atau mungkin lebih baik, mulai mendalami, hingga akhirnya kamu menyadari.

Saya harus mengakui, pikiran saya masih acak, sama seperti nama blog ini. Mungkin Acup lebih bisa menjejak, karena ia sederhana dan mengalami apa yang saya jalani. Saya pun harus lebih jelas lagi menggambarkan apa yang acup rasakan dan kembali memahami karakternya.

sudah cukup dulu untuk hari ini, semoga bermanfaat, jika belum untuk orang lain, untuk diri sendiri.

Selamat Idul Fitri...

Niki, 17 Juli 2015 - 23:35

Sunday, July 12, 2015

Hari Penuh Warna

Hari ini, dimulai sebelum matahari terbit. Menyambut matahari bersama Sprites - Water, atau mungkin mereka adalah peri air.
Pagi, kantuk dikalahkan oleh alunan gitar, dentum drum, dan nyanyian berulang. Mengajak matahari untuk muncul di cakrawala.
Lima penari bergerak mengikuti alunan musik, yang bersuara tanpa arah, tapi membujuk matahari untuk keluar dari awan mendung.
Akhirnya sebersit sinar mengintip dari balik awan kelabu dan menandakan dimulainya hari.
Saya sempat berselonjor di pantai, bermain dengan air laut. Hari ini saya pergi ke dua pantai yang berbeda, mengecup bibir laut dan melepaskan bulu malaikat untuk peri laut.
Malam tiba, dan sepertinya waktunya untuk menyerap energi dari orang-orang dan membaginya. Temanku senang sekali, energinya meluap, hasratnya mengaur-aur.
Paling tidak, saya berbuat satu kebaikan hari ini. Sisanya, harap dimaklumi.

Niki, Kertamulia, 12 Juli 2015 - 00:40

Friday, July 10, 2015

Semangat Kata


Semalam saya mendapatkan asupan energi yang cukup banyak. Setelah seharian merasa kurang bersemangat. Datang dari seorang teman nun jauh di sana, namun cukup membuat saya ingin melakukan sesuatu, bahkan lebih.

Kata-kata, beberapa ada yang bilang, jangan ngomong doang dong! Memang benar, kata-kata harus diikuti aksi.
Namun saya percaya bahwa kata-kata mempunyai kekuatan dan aksinya sendiri. Kata yang diucapkan dari hati, dan tepat sasaran, akan memberimu kekuatan.

Saya diajak untuk melanjutkan, dengan semangat baru, sebuah mimpi. Mimpi yang kemudian akan menjadi mimpi bersama. Sesuatu yang sedang banyak terjadi saat ini. Bergerak bersama untuk mencapai suatu tujuan, co-create, co-working, co-existing. Mungkin kata yang sudah lama anda dengar, ataupun baru.

Sekarang, saya akan membuatnya nyata.

Niki, Kertamulia, 10 Juli 2015 - 16:02

Thursday, July 9, 2015

Menangkap Matahari

Senja datang dan pergi, aku sempat terlelap sore tadi.
Apa yang terjadi hari ini, aku tak bisa bercerita, yang aku tahu, sudah malam kembali.
Hari ini aku bangun pagi, tidurnya pun, pagi. Semalam pulang larut sekali.
Lalu, hari berlangsung lambat, tanpa ada yang lewat.
Dan aku pun, sekarang merasa ada yang perlu kulumat, atau aku perlu berhemat?

‎Sudahlah, aku perlu energi dari orang-orang. Waktunya berkeliling sedikit, sambil mencari teman.

Semoga besok aku dapat menangkap matahari pagi, ataukah itu lusa? 

Niki, Kertamulia, 9 Juli 2015 - 19:16

Wednesday, July 8, 2015

Semalam Berkalung Tali Rafia

Semalam saya datang ke Cata Odata 
bisa dilihat di instagram @cataodata atau Facebook juga.
Sebuah Ruang untuk berkarya, berdialog, ataupun sekedar merespon apa yang terjadi di sana.

Liar
Sebuah kolaborasi 3 Artis residensi di sana. Lepas dan bebas mengekspresi. Ketiganya membuat jurnal masing-masing, selain berkarya. Satu penulis, dua perupa. Rat Heist / Mohd. Arifin / Imam Sucahyo.


Dibuka dengan pertunjukan oleh dua pemain teater dari Singapura. Glow dan siapa ya? Saya lupa. Maaf ya... :p






Malam Rabu yang menarik. Saya yakin ada teman saya yang akan sangat tertarik.
Pasti saya akan datang kembali untuk melihat atau bahkan membuat sesuatu.

Oh iya, sebelum lupa, ini detail untuk "LIAR"
Ya sudah, setelah itu, tentunya berbuntut obrolan dengan teman yang diajak datang bersama.

heheh...

Niki, Sanur, 8 Juli 2015 - 16:55

Monday, July 6, 2015

Sudah Senin Lagi

Senin pagi, bangun, dan segera pergi. tapi seperti tanpa arti, karena yang ditemui buru-buru pergi. 
Hari ini kurang menyenangkan, Kurang tidur, dan ngomel pagi-pagi. Sepertinya masalah komunikasi, ataukah saya yang kurang mengerti?
Hariku pun menjadi tidak enak lagi, siang, datang dan pergi, janji tidak ditepati. Cuma tersisa tulang yang ngilu, di kaki.
Ya sudahlah, Ayo coba saja nikmati lagi. Apa sih yang kamu cari?

Oh iya, saya senang hari ini bangun pagi. walau kemudian harinya berlangsung hampir tanpa arti. Biarlah, mungkin memang harus saya jalani. Senang, sedih, lihat saja nanti. hup hup hup, mari...

Saya memang tidak terlalu bersahabat dengan senin pagi, barangkali besok bisa bangun pagi lagi ;)

Niki, Rumah Sanur, 6 Juli 2015 - 19:40

Minggu Rehat


      










Mingguku, siang.Bangun siang, lalu bimbang.Kesana atau kesini.Akhirnya lain lagi.


Pertama kali, dimulai dengan pencarian rantai berantai.‎Satu, dua, tiga, empat, lima.Kutemukan di hitungan enam, harganya pun, enamPuluh ribu, demikian.


Lalu, kembali ke nomer dua, rantai terpasang.Saya senang. Selanjutnya mengejar dendang.
Kususuri jalan dengan rantai baru,
Dengan bantuan mbak pembantu navigasi.Sampailah di sebuah gang Rama, mbaknya bilang Sita.Aku mengerti.


Mungkin saatnya mencari, Sita untukku.
Senja datang, dan pergi. Aku mencoba menikmati.Sulit sekali, pulang sajalah, besok lagi.Terlelap enak sekali, hingga tok tok tok terdengar.Apa itu, adikku memanggil, ada sesuatu untuk dibagi.
Makan, ngobrol, dan sekedar basa basi.Kemudian, tidak bisa tidur lagi, sepi.


Keluar dan kembali, dupa madu menemani.Melanjutkan lagi, coretan yang hampir jadi.Kemudian, lapar lagi.
Sekarang saya menunggu makanan, dan tulisanku pun jadi.Mari makan!


Niki, Gunung Sari, 6 Juli 2015 - 02:07

Friday, July 3, 2015

Purnama dan Sketsa




Purnama masih memberikan energi yang kuat, dan bulan juli ini, fenomena blue moon kembali terjadi.
Dua kali purnama.
Tidak ada hubungannya dengan sketsa saya. Itu hanya coretan saat malam hari, yang saya buat dan tambahkan tiap malam, saat kembali ke kos.

Hari ini ramai sekali, tadi pagi, saya bangun pagi, hanya untuk kemudian tidur lagi, bukan contoh yang baik.
Kemudian sepertinya saya tidak diijinkan untuk menyerap terlalu banyak. Wifi di beberapa tempat sedang gangguan.
Cukup tiga hal yang saya lakukan hari ini, beli kain blacu, buat form, dan mencari bunga.
Kopinya, juga tiga kali. Tubruk, arabika dan robusta.
Ya, sembahyang dua kali, siang dan malam, lalu, apa lagi ya?
Sepertinya sebentar lagi saya akan pergi untuk menyambut purnama, sendiri.
Sampai nanti, semoga bulanmu menyenangkan!

Niki, Kertamulia, 3 Juli 2015 - 20:04

Thursday, July 2, 2015

Salahkah, Terbiasa?

Hari ini, aku kembali lari-lari.
 Senang-senang aja sih. Macam spinifex, si rumput lari-lari.
Kamu bisa menemukan itu di pantai, atau gumuk pasir, dia semacam tumbleweed ala indonesia.
Ah, aku meracau. Mari kembali ke topik. Eh, apa ya topiknya?
Lari-lari? Atau terbiasa?
Pilih mana ya?
Aku sebenarnya cuma mau cerita hariku sih. Tak lebih‎.

Tapi aku lupa.
Yang kuingat cuma matahari tenggelam dan bulan terbit. Indah sekali.
Senja mengajakku untuk merenung sedikit.
Setiap hari, adalah anugerah, dan aku lupa bersyukur cukup lama.
Sekarang waktunya kembali mulai.
Mari

Niki, imam bonjol, 2 juli 2015 - 00:09

Wednesday, July 1, 2015

Laut, Kita Teman kan?

Malam ini, aku datang mengisi tabung pengetahuanku.
Lewat seorang Profesor Rokhmin Da‎huri.
Kepalaku penuh, hatiku jauh, akupun malu.
Kemana sajakah aku pergi selama hidupku ini?

Laut seperti kembali memanggilku, lewat keseriusan orang-orang ini.
Aku memang tidak terlibat secara langsung dengan apa yang mereka lakukan.
Ah, seharusnya kucolek beberapa orang tadi, sudahlah, mungkin lain kali.
Semoga ada lain kali. Semoga aku tak terjebak kembali di awan gemawan.

Perikanan, budidaya, mikroalga, konservasi, ekowisata, sebagian besar aku pernah terlibat di dalamnya.
Kenapa sekarang tidak? Apakah aku masih ingin?
Aku merasa sangat jauh, sedih sekali. 
Aku mau ah, coba untuk mencari lagi, jalan menuju laut, lautku.

Niki, Kertamulia, 1 Juli 2015 - 00:25

Tuesday, June 30, 2015

Kopi hari ini

Senin, orang-orang mulai bergerak, cepat.
Hariku, agak lambat. Kopi pertamaku enak, arabika kintamani, proses natural.
Kemudian, sore pun tiba, kembali kuseduh kopi yang sama.
Aku minum sendiri, karena temanku, puasa, semoga pahala, heheh...
Lepas senja, datang ke penutupan pameran seni, militant arts, asyik juga.
Temanya, Ulu Teben, artinya hulu hilir, direspon dengan bebas oleh 30 seniman.
Hebat mereka, masing-masing punya interpretasi sendiri. Tapi, kopinya tidak enak, heheh..
Malam sudah, kembali ke rumah pojokan dengan pagar merah, temanku buat kopi, lagi.
Tak lama, aku pulang. Masih sempat dong mampir di kedai kopi. Kali ini Toraja.
Ya begitulah. Kuota hari ini maksimal, lima kali ngopi, dan sekarang pun, saya lapar.

Niki, Teuku Umar Barat, 30 Juni 2015 - 00:43

Monday, June 29, 2015

Libur itu Menyenangkan

Libur dari menulis, sudah dua hari, menyenangkan, lalu sekarang waktunya menguras isi kepala.
Sepertinya, macam seorang pekerja kantoran liburku dimulai jumat sore.
Rencana awalnya adalah, datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun.
Namun sepertinya di kepalaku sudah terisi rencana untuk dua hari selanjutnya.
Pemicunya memang ulang tahun teman, saya senang, dia terlihat bahagia. Kemudian ditambah janji memberikan buku.
Tiba-tiba rencana berubah sedikit akibat pertemuan tanpa sengaja.
Dimas sepertinya mengirimkan sinyal agar saya bertemu dengannya.

Teman sma, sofbol, muncul di pasar sabtu di Canggu, diikuti ajakan barbecue.
Bertemu dengan orang-orang dari Green school, makan malam dan obrolan.
Esoknya, petualangan dimulai dari Sanur, pasar minggu Sanur. Ditambah perjalanan ke Kerobokan, lalu kembali merambah Canggu.

Sudah malam, waktunya kembali, temanku besok berangkat pagi.
Sanur dan berakhir di Imam Bonjol kembali.
Senang.

Niki, 29 Juni - 01:52

Friday, June 26, 2015

Cerita Batu

Satu setengah bulan yang lalu, temanku memberikan sekawanan batu, kristal katanya.
Aku bilang, terima kasih, banyak sekali? Kamu sedang butuh banyak, katanya.
Waktu itu, aku mendapat sembilan. Kusimpan di celana, dalam kantung kecil.

Lalu, aku diberikan lagi satu. Sebuah kristal pecinta matahari. Ini memberiku ide.
Kucari tali, merah, dan kucoba menjalin dan mengikatnya lebih dekat ke hati.
Hasilnya, hidupku jadi lebih warna warni. Matahari membuatku riang.

Seminggu kemarin, sudah dua kali, si tali merah mencoba lari. Ia lepas dua kali.
Kupikir, mungkin ia mencari siapa lagi yang bisa dibantu agar riang menari.
‎Kemarin, aku bertemu seorang putri, dari masa lalu, memoriku hilang, lalu terisi kembali.

Setelah menyapaku, ia pergi, meninggalkanku dalam badai otak.
Aku mencari dan mencari, sampai akhirnya kutemukan kembali, sang putri.
Kulepaskan tali merah yang menggantung di leherku. Kamu sepertinya lebih butuh.

Apa ini? Katanya. ‎Ini untuk menambah senyummu. Kamu kelihatan capek.
Terima kasih, pas sekali, aku sudah mau pulang.
Dan hilanglah ia ditelan malam.

Niki, masih terjebak di badai memori.
26 Juni 2015 - 13:52





Thursday, June 25, 2015

Batas

Aku senang hari ini. Tidak ada yang spesial sih. Tapi tidak juga biasa.
Buatku sekarang, tidak ada yang biasa. Semuanya istimewa.
Kenapa? Karena kita semua punya kemampuan yang tidak biasa.
Masing-masing dari kita punya kemampuan untuk belajar, menjadi bisa.
Semua punya potensi besar untuk melakukan apa saja.
Yang membedakan? Hasrat, bakat, dan kebiasaan. Oh satu lagi, lingkungan.
Pasti penasaran kan? Anggap saja iya. Kita punya keinginan dan hasrat.
Atau lebih gampangnya, kegemaran. Ada yang gemar membaca, olah raga, atau berbicara.
Itu hal yang biasa kan? ‎Mungkin saja. Mungkin juga tidak. Hmmm...
Apa sih ‎yang membuat kita suka sesuatu? Karena menarik, karena trend, atau ada idola?
Berangkt dari sana, selanjutnya jangan berhenti di situ saja. Coba lakukan terus kesukaanmu.
Lihat juga sekitarmu, adakah orang lain dengan minat yang sama? Apa bedanya dengan kamu?
Kemudian lihatlah ke atas dan ke bawah. Dengan apa yang kamu lakukan, siapa yang memanfaatkannya lebih jauh.
Untuk menjadikannya mata pencaharian, atau kegiatan sehari-hari yang menghasilkan.
Tidak ada? Mungkin kamu melihat dari sisi yang salah. Pasti ada.
Kalau bakat, tentu membantu. Walau tidak mutlak perlu.
Yang paling penting itu latihan. Menjadikannya.sebuah kebiasaan. Itu akan sangat memupuk kemampuan.
Dan akhirnya, saat.kamu sudah melewati itu, kamu akan sadar, bahwa batas, adalah apa yang kamu ciptakan ditambah tekanan lingkungan.

Jadi berhentilah berpikir tentang batas, tetapi cobalah lampaui.
Ini adalah catatan untuk diriku sendiri.

Niki, imam bonjol, 25 juni 2015 - 03:20

Wednesday, June 24, 2015

Tentang Pertemuan dan Ketemuan

Kita itu, tahu gak sih kapan kita bakal ketemu seseorang, dan kenapa?
Buatku sih, sesuatu yang random, berkah dari semesta, tanpa harus tahu kenapa.
Setelah itu, barulah kita mengalir dan menjadikannya sesuatu yang berarti.

Dalam proses saya mengisi kembali, energi dalam diri, potensi yang berarti, saya kacau.
Lalu, apa yang terjadi? pertama kali, memang harus membuka diri, selanjutnya, apapun bisa terjadi.
Seperti pintu bendungan yang terbuka, semua datang dengan sangat cepat dan banyak, tak perlu dihadang.
Teruslah berdendang, dan rauplah, selami, reguk semua yang diberikan untukmu.
Itu sih, yang saya bilang, untuk diriku sendiri. Kalau kamu berpikir lain, silakan cari sendiri.

Heheh...

Saat ini, seperti Ultraman dengan lampu kelap-kelip, energiku hampir habis. 
Saya perlu isi ulang, atau ganti bahan bakar. yang manapun yang lebih cocok, mari lakukan.
Sudah lebih dari sebulan, saya kembali bertemu orang-orang. berinteraksi tanpa beban.
Kemudian, yang terjadi adalah, apa selanjutnya? cukupkah sampai disini, atau kurang?

Mari bertanya lagi, pada semesta alam

Niki, Dewi Sri, 24 Juni 2015 17:49

Tuesday, June 23, 2015

Ketemu Aja! : Penyambung Antara Seni dan Komunitas Masyarakat


 Ini merupakan kali kedua saya datang ke acara KETEMU Project/Space yang bertempat di daerah Batubulan, Bali. Sebuah tempat yang menarik, yang menyediakan tempat residensi bagi seniman dari berbagai disiplin. Tidak berhenti sampai di situ, kemudian juga ada acara sharing/berbagi yang terbuka untuk umum dan orang-orang dengan minat yang sama. Selanjutnya, kita bisa saling terkoneksi dengan orang-orang yang datang, mulai dari seniman, penikmat seni, dan juga orang yang bergerak dalam industri yang berhubungan.
Untuk lebih lengkapnya, langsung saja meluncur ke http://www.ketemuprojectspace.com/


Kali ini, tanggal 19 Juni kemarin, seorang Elizabeth Gan berbagi tentang pengalamannya mempelajari seni membuat keramik. Ia berasal dari Singapura, sebelumnya bekerja sebagai art administrator dan penulis. Ketertarikannya akan pembuatan keramik membawanya sampai ke Tajimi, Jepang. Daerah tersebut terkenal sebagai tempat produksi keramik tradisional Jepang. Setsuro Shibata, Ahli keramik dari Tajimi kemudian menjadi mentor Elizabeth. 

Elizabeth yang berasal dari Singapura sebelumnya merasa bosan dengan kehidupan di negaranya yang sudah maju. Semua menjadi terlalu cepat, orang-orang sangat konsumtif, dan kadang kehilangan nilai-nilai dari budaya yang ada sebelumnya. Ia kemudian mencoba mencari cara untuk dapat berpegang pada 3 prinsip: (1) hidup dengan lebih sederhana; (2) menikmati dan menghargai keindahan; dan (3) menggunakan barang-barang yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan. 

Di Singapura, elizabeth merasa kesulitan untuk melakukan pembakaran keramik, karena aturan pemerintah melarang masyarakat untuk menggunakan api yang terlalu besar. Maka dalam setahun, hanya ada momen-moen tertentu saja itu dapat dilakukan. Akhirnya Elizabeth berkesempatan untuk pergi ke Jepang untuk mempelajari dan melakukan riset pembuatan serta sejarah keramik di Jepang. Setelah itu, ia merasa bahwa bentuk dan kultur keramik di Jepang memiliki dasar yang sangat kuat, berhubungan dengan Upacara Minum Teh, suatu ritual istimewa yang dilakukan disana. Untuk mendapatkan energi dan hasil yang sama dengan para pembuat keramik tradisional Jepang, dirasa kurang tepat untuk diaplikasikan di Singapura. 

Hal yang paling penting yang didapat selama waktunya di Jepang adalah: (1) Kesabaran merupakan hal yang sangat penting, terburu-buru tidak akan membawa hasil yang baik; (2) dengan banyak berlatih, imajinasi kita jadi terbuka untuk menemukan inovasi baru; (3) sama sekali tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau. Elizabeth kemudian melanjutkan perjalanannya, dan tiba di Bali.

Bali, baginya merupakan tempat yang sangat berbeda dengan Jepang bahkan Singapura. Mulai dari mataharinya yang terik, sehingga bayangan seperti tercetak dengan jelas di tanah, hingga warna-warni yang ia temukan di Bali. Baginya sangat kontras dan kuat. Terlihat dari bagaimana dalam ritual sehari-hari masyarakat Hindu di Bali, warna-warni tersebut terlihat di sesajen dan perlengkapan upacara lainnya.

Sebagai penutup, Elizabeth mengutarakan 3 buah pertanyaan yang muncul dari perjalanannya dan pemikiran yang timbul dari riset dan perbandingannya dengan dunia saat ini. Ini berhubungan dengan 3 prinsip yang ia sampaikan di awal, bagaimana kita sebagai manusia sudah sangat tergantung pada teknologi dan lupa akan hal-hal yang diajarkan oleh leluhur kita. Semua orang ingin serba cepat, serba praktis, serba ekonomis, tanpa memikirkan akibatnya dalam jangka panjang. Ini ditandai dengan tingkat konsumsi yang tinggi, penggunaaan benda-benda yang TIDAK ramah lingkungan, dan semua yang instan. 

Marilah bersama kita bertanya kembali 

"where do we come from? 
what are we? 
where are we going?"

"Darimana kita berasal?
Siapakah kita sebenarnya?
Dan mau kemana kita?" 


Monday, June 22, 2015

El meler

Bukan, ini bukan judul film karya Dennis Adiswara.
Ini cuma saya yang sedang mengalami situasi yang sangat encer. «-- di hidung
Kemudian memori mengoneksikannya dengan film tersebut, yang peran utamanya seorang bocah dengan ingus menggantung.
Ya sudah.

Sebaiknya saya istirahat sebelum saya menjadi El Meler beneran.

Niki, Kertamulia 22 Juni 2015 - 22:21

Saturday, June 20, 2015

Terlalu Cair

Aku dulu terlau cair. Awalnya sangat padat, dan kaku.
Kemudian mencair, hingga encer. Sempat mengalir, kesana kemari.
Kau tidak tahu apa akibatnya. Saat aku menyentuh semua orang. Ada yang suka, dan tidak.
Ya tak apa. Aku hanya menyesuaikan diri, dengan waktu.
Sekarang, aku kembali kaku. Tapi perlahan melunak, menjadi agar.
Supaya tetap punya bentuk, tapi mudah membantu.
Tak selalu, tapi di saat perlu. Aku merasa punya sedikit malu. Cukup sedikit saja.
Heheh...

Cuma saat ini, yang kurasa perlu. Mengingat masa lalu, kemudian
bersiap lagi untuk yang akan datang.‎ Itulah aku. Janganlah ragu.
Cuma aku sendiri yang tahu, apa yang bisa untukku. Orang lain, hanya membantu.
Itu, aku sudah tahu. 
Yang aku belum tahu‎, apa mauku. Hahaha... sebentar lagi juga tahu ;)
Selanjutnya, aku cuma ingin menjadi aku. Tanpa beban dan malu.

Sekian dulu

Niki, Kertamulia, 20 Juni 2015-03:30